Rabu, 14 Juni 2017

MAKALAH
MIKROBIOLOGI
PERANAN MIKROORGANISME DI LINGKUNGAN AQUATIK
 










                                                                   NAMA-NAMA KELOMPOK        
            KETUA                                   :           1.AFRISIAN MBAKE ( 1604060188 )
ANGGGOTA                         :           1.ARNOLDUS SANDA
                                                            2.ADELFINA M. KLAU
                                                            3.DICKY WENYI
                                                            4.ELMIATI SUSANTI LANGGA
                                                            5.GLORIANY M.EBY SOLA
                                                            6.KARLITA ELISA TASUAB
                                                            7.YOHANES PASKALIS SOGEN
                                                            8.YUMIYATI TAMU INA
JURUSAN                              :           AGROTEKNOLOGI 3

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2017
KATA PENGANTAR
            Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya yang berjudul “PENGARUH MIKROORGANISME DI LINGKUNGAN AQUATIK”.
Makalah ini berisikan tentang bagaimana penyebaran mikroorganisme dalam lingkungan aquatik,faktor apa sajah yang mempengaruhi penyebaran mikroorganisme di lingkungan aquatik,dan bagaimana peranan mikroorganisme di lingkungan aquatik.. Diharapkan Makalah ini  dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang lipid.
            Akhir kata, saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini. Semoga Makalah ini dapat memberikan informasi bagi semua pihak yang memerlukan.








                                                                                                Kupang, 1 April 2017


                                                                                                            Penulis









DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................................i
DAFTAR ISI.............................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................................1
1.1. LATAR BELAKANG.............................................................................................................1
1.2. RUMUSAN MASALAH.......................................................................................................2
1.3. TUJUAN...........................................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAAN............................................................................................................3
2.1. PENYEBARAN MIKROORGANISME DALAM LINGKUNGAN AQUATIK..................................3
2.2. FAKTOR PENYEBARAN MIKROORGANISME DI LINGKUNGAN AQUATIK.............................6
2.3. PERANAN MIKROORGANISME DI LINGKUNGAN AQUATIK...............................................9
BAB III PENUTUP...................................................................................................................12
3.1. KESIMPULAN..................................................................................................................12
3.2 SARAN.............................................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA












BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Mikrorganisme merupakan semua makhluk yang berukuran beberapa mikron atau lebih kecil lagi. Yang termasuk golongan ini adalah bakteri, cendawan atau jamur tingkat rendah, ragi yang menurut sistematik masuk golongan jamur, ganggang, hewan bersel satu atau protozoa, dan virus yang hanya nampak dengan mikroskop elektron.
Mikroorganisme umumnya terdapat di mana-mana, seperti di dalam tanah, di lingkungan akuatik, berkisar dari aliran air sampai lautan, dan atmosfer. Mikroorganisme sangat erat kaitannya dengan alam dan kehidupan manusia, beberapa diantaranya bermanfaat dan yang lain merugikan (Pelczar dan Chan, dalam Waluyo 2009).
Mikroorganisme tidak dapat dipisahkan dengan lingkungan abiotik dan biotik dari suatu ekosistem karena perannya sebagai pengurai. Salah satunya adalah peran mikroorganisme yang hidup pada daerah akuatik. Air alami tersedia sebagai habitat untuk sejumlah mikroorganisme. Mikroorganisme tersebut dapat menempati habitat air tawar seperti danau, sungai, kolam, habitat lautan, atau habitat estuari atau daerah antara laut dan air-tawar. Ilmu mengenai mikroorganisme dalam lingkungan air tawar, lautan dan estuari disebut mikrobiologi akuatik. (Waluyo, 2009).
Menurut Taringan 1988, keberadaan mikroorganisme-mikroorganisme dalam lingkungan akuatik dan kegiatannya sangat penting. Jasad  renik tersebut dapat mempengaruhi kesehatan manusia dan kehidupan hewan, hal ini karena mereka menempati posisi kunci di dalam rantai makanan dengan cara menyediakan makanan bagi kehidupan akuatik berikutnya yang bertaraf lebih tinggi. Jasad-jasad renik tersebut membantu berlangsungnya rantai reaksi biokimiawi yang mengatur daur ulang unsur-unsur, seperti yang terjadi di dalam tanah. Oleh karena itu dalam makalah ini akan dikaji secara umum tentang penyebaran mikroorganisme akuatik serta peranan mikroba di lingkungan akuatik baik yang menguntungkan maupun merugikan.



1.2. Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah penyebaran mikroorganisme di lingkungan Aquatik ?
2.      Faktor apa sajakah yang mempengaruhi penyebarluasan mikroorganisme di lingkungan Aquatik ?
3.      Bagaimanakah peranan mikroorganisme di lingkungan Aquatik ?

1.3. Tujuan
1.      Untuk mengetahui penyebaran mikroorganisme di lingkungan Aquatik
2.      Untuk mengetahui faktor apa sajah yang mempengaruhi penyebaran mikroorganisme di lingkungan Aquatik.
3.      Untuk mengetahui bagaimana peranan mikroorganisme di lingkungan Aquatik.



















    .  BAB II
PEMBAHASAAN

2.1. Penyebaran Mikroorganisme Dalam Lingkungan Akuatik
            Mikroorganisme merupakan bagian komponen biologis, dimana komposisi dan ukurannya tergantung dari kondisi fisik dan kimiawi. Bakteri dan fungi berdistribusi hampir pada semua air, namun memiliki jumlah dan jenis yang berbeda-beda antara sungai, danau dan laut. Bakteri dan fungi heterofilik dapat hidup hanya dengan mengggunakan bahan-bahan organik, baik yang disintesis dan diresintesis oleh organisme yang lain dalam mendapatkan nutriennya. Distribusi mikroorganisme dalam air merupakan hasil dari interaksi semua faktor biotik dan faktor abiotik. Tipe air seperti sungai, danau, dan laut juga mempengaruhi distribusi dari bakteri dan fungi.
A.       Distribusi pada Mata Air dan Sungai
       Hanya sedikit bekteri yang ditemukan dalam mata air, karena nutriennya sedikit. Jumlah total bakteri berkisar dari ratusan hingga ribuan per mililiter dan jumlah saprofit umumnya antara 10 sampai beberapa ribu. Hal ini karena mata air mengandung konsentrasi nutrien yang rendah, dan biasanya terdapat bakteri yang sangat kecil berbentuk kokus dan batang pendek bila dilihat dengan mikroskop cahaya. Pada beberapa mata air, khususnya pada tepi mata air, Cyanophyta juga ditemukan. Komposisi spesies tergantung pada temperatur dan mineral. Synechococcus lividus ditemukan pada sumber air panas di Taman Nasional Yellowstone pada suhu 73-74oC. Biomassa terbesar juga ditemukan pada sumber mata air panas Hunter di Oregon, Amerika Serikat. Disamping itu juga ditemukan lapisan bakteri fototropik. Pada temperatur di bawah 53oC Oscillatoria terebriformis juga dapat berkembang, dan pada suhu 47-48oC digantikan oleh Pleurocapsa dan Calothrix. Di Islandia dan Selandia Baru, Mastigicladus laminosus ditemukan pada suhu 63-64oC. Temperatur ini menunjukkan batas teratas untuk kehidupan tumbuhan hijau. Pada sumber mata air panas di atas suhu 50oC hanya bakteri dan Cyanophyta yang dapat hidup. Jadi pada lingkungan tersebut hanya prokariot yang dapat hidup.
       Jumlah bakteri saprofit di sungai dan mata air tergantung dari musim. Pada musim panas dan musim dingin akan memiliki jumlah yang berbeda dan mengalami fluktuasi. Jumlah bakteri tertinggi pernah dihitung selama musim dingin dengan keadaan temperatur rendah dengan nutrisi yang didapatkan dari limbah. Jumlah yeast di sungai meningkat karena limbah yang dibuang ke sungai cukup besar. Pada arus air yang jernih yeast jarang ditemukan. Spora-spora jamur tingkat tinggi secara melimpah berada di sungai dan merupakan bagian penting dari peningkatan limbah. Sedangkan komposisi populasi fungi tingkat rendah tergantung dari jumlah bahan organik yang masuk. 
B.      Distribusi pada Danau
       Jumlah bakteri saprofit di danau tergantung dari tipe danau. Pada danau tipe oligotrofik berbeda dengan tipe danau mesotrofik, danau eutrofik, dan distrofik. Jumlah terbesar biasanya pada tipe danau eutrofik. Pada danau yang jernih jumlah tertinggi bakteri pada saat jumlah nutrien fitoplankton diproduksi paling tinggi. Distribusi vertikal bakteri tergantung dari perbedaan musim. Selama musim panas yang paling berkembang adalah alga dan bakteri. Tidak hanya jumlah total bakteri pada berbagai zona yang berbeda tetapi juga komposisi dari spesiesnya. Bakteri heterotrofik mencapai jumlah maksimum bila berada dalam zona termoklin dan yang kedua di atas dasar danau.
       Distribusi mikroba pada danau mesotrofik dipengaruhi oleh persediaan oksigen. Bakteri Metallogenium personatum ditemukan pada lapisan 10 meter dari permukaan. Pada kedalaman 10,75 meter, dimana H2S selalu ada maka bakteri sulfur seperti Rhodothece conspicua dan Thiocapsa sp. mencapai jumlah maksimum. Bakteri sulfur hijau, misalnya Pelodictyon luteolum di bawah kedalaman 11-11,5 meter menjadi paling dominan jumlahnya. Sejumlah bakteri coklat Chlorochromatium dan Pelodictyon roseoviride juga didapatkan pada kedalaman 11-12 meter. Bakteri Peloploca pulchra didapatkan pada kedalaman 13,0-22,5 meter. Jumlah terbesar bakteri fotototrof yang pernah diobservasi di danau eutrofik bergaram adalah 48 juta per ml, dan pada danau oligotrofik air tawar mencapai 3,5 juta per ml.
       Cyanophyta tersebar luas dalam danau perairan dalam. Pada danau oligotrofik, fitoplankton ini tergolong sangat kecil. Proses peningkatan dengan cara eutrofikasi. Dalam danau eutrofik, Cyanophyta terdapat pada musim panas dan nampak warna kehijauan pada air. Hal ini terjadi pada lapisan sekitar 1-2 meter. Peningkatan eutrofikasi juga meningkatkan perubahan populasi Cyanophyta, misalnya Oscillatoria rubescens.
C.     Distribusi pada Laut
       Kebutuhan akan nutrien merupakan bagian pada laut terbuka sehingga mempengaruhi flora normal. Jumlah bakteri saprofit pada berbagai bagian laut berbeda-beda. Hal ini karena perbedaan tempat dan fluktuasi musim. Jumlah bakteri saprofit  pada suatu teluk lebih tinggi daripada laut terbuka. Pantai yang tercemar juga mengandung banyak bakteri soprofit karena mengandung bahan-bahan organik yang cukup tinggi, sedangkan jumlah bakteri saptofit biasanya rendah. Distribusi vertikal bakteri saprofit mencapai jumlah tertinggi pada zona eufotik, tetapi tidak pada zona atas dengan kedalaman 10-50 meter. Di bawah 200 meter hanya sangat kecil jumlah bakteri saprofit yang ditemukan, dan di bawah 1000 meter jumlah sangat sedikit.
       Cyanophyta berperan penting sebagai fitoplankton di laut. Anggota dari genus Trichodesmium tersebar luas di perairan tropis. Cyanophyta tidak hanya dapat diobservasi dari zona fotik tetapi juga dapat diambil dari laut yang lebih dalam. Misalnya genus Nosctoc dan spesies Dactyliococcopsi dari Samudera Indonesia dan Samudera Atlantik. Nosctoc planktonicum juga didapatkan pada kedalaman 1000 meter.
       Distribusi Phycomycetes laut telah diteliti di luat utara dan laut Atlantik Tenggara. Jumlah tertinggi sebanyak 2000 fungi per liter didapatkan pada tanah di dekat laut terbuka. Perbedaan jumlah disebabkan pengaruh musim. Sedangkan distribusi yeast di laut juga telah dipelajari. Jumlah yeast relative tinggi dalam pantai yang banyak limbah. Walaupun demikian, yeast masih dapat ditemukan pada laut terbuka, misalnya di Samudera Indonesia pada kedalaman 2000 meter.
D.    Distribusi pada Sedimen Perairan Dalam
       Koloni mikroorganisme dalam jumlah besar bisa didapatkan dari lapisan atas lumpur suatu danau karena memiliki bahan organik yang tinggi. Keberadaan mikroorganisme tersebut dapat dihitung dengan hitung mikroskopik langsung. Jumlah bakteri yang ditemukan antara 1.000.000 sampai dengan beberapa ratus juta per gram lumpur. Jumlah bakteri saprofit secara umum sebanyak beberapa puluh ribu sampai beberapa ratus ribu per gram lumpur. Pada air yang tercemar didapatkan jumlah yang lebih besar.
       Lumpur yang berisi bakteri dan bahan-bahan organik yang telah terurai dapat didapatkan dari kedalaman lumpur yang hanya beberapa sentimeter. Pada kedalaman 1 m jumlah bakteri hanya sedikit dibandingkan pada permukaan. Hampir dalam semua endapan danau, di samping Eubacteria, Actinomycetes juga dapat dideteksi. Jumlah Actinomycetes menurus sesuai dengan kedalaman. Demikian juga, jumlah fungi dalam lumpur danau juga menurun dengan meningkatnya kedalaman sedimen.
E.        Distribusi pada Sedimen Laut
       Bakteri dan fungi didapatkan juga dari sedimen laut seperti yang ditemukan pada laut dalam. Mikroorganisme dapat mengabsorbsi partikel-partikel dalam sedimen, sehingga hal ini salah satu kesulitan dalam hal menghitung jumlahnya. Jumlah total bakteri pada lapisan atas tergantung pada macam sedimen dan kedalaman air, yakni jumlahnya antara beberapa ratus ribu sampai beberapa puluh juta per cm3.
       Jumlah bakteri saprofit dalam sedimen menurun karena terjadi penurunan bahan-bahan organik semakin ke dalam. Jumlah tertinggi bakteri dan fungi hampir semua didapatkan hanya dari beberapa sentimeter lapisan atas sedimen. Setiap 10 cm di bawah permukaan jumlah bakteri berkurang beberapa persen; di bawah 100 m dari permukaan sedimen jumlah bakteri dan saprofit menurun jauh.

2.2 Faktor Penyebarluasan Mikroorganisme di Lingkungan Akuatik
Berbagai macam mikroorganisme ditemukan dalam lingkungan akuatik, penyebarluasannya ditentukan oleh faktor kimia dan fisik yang terdapat dalam lingkungan tersebut. Faktor lingkungan ini sangat berbeda satu dengan yang lainnya seperti suhu, tekanan hidrostatik, cahaya, salinitas, turbiditas, pH, dan nutrien.
a. Temperatur
Temperatur air permukaan berkisar antara 0 oC di daerah kutub sampai 40oC di daerah equator. Di bawah permukaan lebih dari 90% lingkungan laut memiliki temperatur di bawah 5 oC, suatu kondisi yang disukai untuk pertumbuhan mikroorganisme psikrofilik. Sejumlah bakteri termofilik dapat diisolasi dari endapan anaerobik dekat palung pada dasar lautan. Sebagai contoh, archaeobacteria Pyrodictium occultum, diisolasi dari bawah laut dekat pulau Volcano, Itali, dimana air bertemperatur 103oC. Dari hasil penelitian di laboratorium, bakteri tersebut dapat tumbuh secara optimum pada temperatur 105oC dan tidak tumbuh pada temperatur di bawah 82oC. Pyrodictium occultum merupakan bakteri autotrof anaerobik yang tumbuh melalui pembentukan hidrogen sulfida (H2S) dari gas hidrogen (H2) dan unsur sulfur (S). Pyrobaculum organotrophum, mewakili kelompok baru archaebakteria hipertermofilik dari laut pada bagian dunia yang berbeda. Spesies dari genus ini dapat tumbuh optimal pada temperatur 100 oC, merupakan bakteri bentuk batangra, gram negatif, anaerob sempurna, dan bergerak dengan flagela.
b. Tekanan Hidrostatik
Tekanan hidrostatik merupakan tekanan pada dasar suatu kolom vertikal air. Tekanan tersebut meningkat menurut kedalaman pada kisaran 1 atmosfir tekanan (14,7 psi) dari setiap 10 m. Pada daerah yang sangat dalam, seperti dekat dasar lautan, tekanan hidrostatik sangat besar dan dapat menyebabkan perubahan dan mempengaruhi sistem biologik, seperti perubahan kecepatan reaksi kimia, kelarutan nutrien, dan titik didih air. Organisme barofilik merupakan organisme yang tidak dapat tumbuh pada tekanan atmosfir normal. Sejumlah bakteri barofilik dapat diisolasi dari parit lautan. Pasifik pada kedalaman antara 1000-10.000 m. Isolasinya membutuhkan alat-alat khusus yang memelihara tekanan tinggi pada sampel dari waktu pengambilan sampai, dan selama masa pembiakkan. Umumnya bakteri barofilik dapat tumbuh baik pada tekanan yang kurang dari tempat asalnya dan hampir seluruhnya diinkubasi pada temperatur psikrofilik (sekitar 2 oC).
c. Cahaya
Sebagian besar bentuk kehidupan akuatik bergantung (baik langsung maupun tidak langsung) pada produk metabolik organisme fotosintetik. Organisme fotosintetik utama dalam sebagian besar habitat aquatik adalah alga dan Cyanobacteria pertumbuhannya dibatasi oleh lapisan permukaan air dimana cahaya dapat menembus. Bagian dalam air dimana terjadi fotosintesis disebut zona fotik. Ukuran zona ini berbeda bergantung pada kondisi daerah seperti posisi matahari, musim, dan khususnya kekeruhan air. Umumnya, aktivitas fotosintetik dibatasi pada kedalaman kurang dari 50-125 m badan air, bergantung pada kejernihan air.
d. Salinitas
Salinitas atau konsentrasi NaCl air alami berkisar antara 0% dalam air-tawar sampai 32% NaCl dalam danau asin seperti the Great Salt Lake di Utah. Air laut mengandung NaCl sekitar 2,75%; konsentrasi garam total air laut (NaCl ditambah garam lainnya) berkisar antara 3,3 – 3,7%. Di samping NaCl garam lain yang ditemukan dalam air ialah natrium karbonat, sulfat dan kalium sulfat, klorida dan karbonat, kalsium dan magnesium. Konsentrasi garam pada daerah yang dangkal dan dekat mulut/hilir sungai biasanya rendah. Pada daerah estuari, konsentrasi garam berbeda dari dasar sampai permukaan, dari hulu sampai hilir, dan dari musim ke musim, menciptakan bahkan merubah kondisi bentuk kehidupan yang menempati badan air tersebut. Sebagian besar mikroorganisme laut merupakan halofilik, yang tumbuh dengan baik pada konsentrasi NaCl kurang dari 2,5 - 4,0%. Dengan kata lain, mikroorganisme dari danau dan sungai dapat dihambat pertumbuhannya dengan konsentrasi NaCl lebih dari 1%.
e. Turbiditas
Turbiditas atau kekeruhan menandakan perbedaan dalam kejernihan air. Laut Adriatik bersih dan berkilauan pada bagian kedalaman sedangkan sungai Mississipi sangat keruh. Bahan yang tercampur yang mampu mengeruhkan air adalah :
1. Partikel bahan mineral.
2. Detritus, partikel bahan organik seperti potongan selulosa, hemiselulosa, dan kitin dari hasil dekomposisi hewan dan tumbuhan.
3. Suspensi mikroorganisme.
Air yang sangat keruh, menyebabkan kurang tembus cahaya, zona fotik kurang dalam. Partikel bahan-bahan juga tersedia sebagai tempat menempelnya mikroorganisme. Beberapa spesies bakteri menempel pada permukaan yang padat dengan maksud berkolonisasi, misalnya Epibakteria.
f. Konsentrasi Ion Hidrogen (pH)
Mikroorganisme aquatik biasanya tumbuh baik pada pH 6,5-8,5. Air laut memiliki pH 7,5-8,5, dan sebagian besar mikroorganisme laut tumbuh baik pada media kultur dengan pH 7,2-7,6. Danau dan sungai dapat memiliki kisaran pH yang luas bergantung pada kondisi lingkungan setempat. Sebagai contoh, archaebakteria dapat diisolasi dari danau garam di Afrika, dimana pH tinggi sekitar 11,5, spesies archaebakteria lain dapat hidup pada pH sangat rendah 1,0 atau kurang.
g. Nutrien
Jumlah dan macam bahan organik dan anorganik (nutrien) yang terdapat dalam lingkungan aquatik secara nyata membantu pertumbuhan mikroorganisme. Nitrat dan fosfat merupakan unsur anorganik yang mendukung pertumbuhan alga. Kelebihan nitrat dan/atau fosfat dapat menyebabkan kelebihan pertumbuhan alga (‘blooming’) pada badan air dan memperbesar penggunaan oksigen dalam air, juga menutupi permukaan air, sehingga air sulit ditembus cahaya, dan akhirnya mematikan semua kehidupan dalam air. Jumlah nutrien dalam badan air mengarah pada penimbunan nutrien dalam suatu lingkungan. Air dekat-pantai, yang menerima air limbah domestik yang mengandung senyawa organik dan anorganik, merupakan daerah yang mengalami peningkatan dan penurunan secara singkat timbunan nutrien, sedangkan laut lepas memiliki timbunan nutrien yang lebih rendah dan stabil. Limbah industri dan limbah pertanian dapat mengandung zat antimikroba, merkuri dan logam berat lain juga dapat memasuki daerah estuari dan air pantai. Sejumlah alga akuatik menghasilkan toksin yang mematikan ikan dan hewan lain. Toksin tersebut dikeluarkan dari sel atau melalui dekomposisi alga oleh bakteri dalam kondisi “blooming”. Alga laut tertentu (Gymnodinium dan Gonyaulax) dapat menghasilkan neurotoksin yang mematikan hewan akuatik. Toksin tertentu dapat terkonsentrasi dalam kelenjar pencernaan moluska (kerang-kerangan) dan menyebabkan paralisis pada manusia yang mengkonsumsi kerang beracun tersebut.




2.3. Peranan Mikroorganisme di Lingkungan Aquatik
Peran mikroorganisme sangat penting dalam siklus kehidupan air. Kontribusi mikroorganisme ini mampu menguraikan bahan-bahan organik dan mempercepat kemungkinan kembalinya unsur-unsur anorganik penting ke dalam siklus zat organik baru. Menurut suriawiria (1985), kehadiran mikroba di dalam air, mungkin akan mendatangkan keuntungan tetapi juga mungkin mendatangkan kerugian.
1.      Mendatangkan keuntungan
a.    Banyak plankton, baik yang terdiri dari plankton-tumbuhan (fitoplankton) ataupun plankton-hewan (zooplankton), merupakan makanan utama ikan-ikan kecil. Sehingga kehadirannya merupakan tanda kesuburan kolam ikan misalnya, untuk perikanan. Ini misalnya untuk jenis-jenis microalgae yaitu Chlorella, Scenedesmus, Hydrodiction, Pinnularia, Sinedra, dan sebagainya.
b.    Banyak jenis bakteri atau fungi di dalam badan air berlaku sebagai jasad decomposer. Artinya jasad tersebut mempunyai kemampuan untuk mengurai atau merombak senyawa yang berada (masuk) ke dalam badan air. Sehingga kehadirannya telah dimanfaatkan di dalam rangka pengolahan buangan di dalam air secara biologis.
c.    Pada umumnya microalgae mempunyai klorofil, sehingga dapat melakukan proses fotosintesis dengan menghasilkan oksigen. Di dalam air, kegiatan fotosintesis tersubut akan menambah jumlah (kadar) oksigen di dalamnya, sehingga nilai kelarutan oksigen (umumnya disebut DO atau dissolved oxygen) akan naik atau bertambah.
d.   Kehadiran hasil uraian senyawa hasil rombakan bakteri atau fungi, ternyata digunakan atau dimanfaatkan oleh jasad-jasad lain, antara lain oleh microalgae, oleh bakteri atau fungi sendiri. Sehingga dalam masalah ini jasad-jasad pengguna tersebut dinamakan consumer atau jasad pemakai. Tanpa adanya jasad pemakai, kemungkinan besar penimbunan (akumulasi) hasil uraian tersebut dapat mengakibatkan keracunan terhdap jasad lain, khususnya ikan.
e.    Penggunaan Bakteri dalam Menguraikan Detergen
Alkil benzil sulfonat (ABS) adalah komponen detergen, yang merupakan zat aktif yang dapat menurunkan tegangan muka sehingga dapat digunkan sebagai pembersih. ABS mempunyai Na-sulfonat polar dan ujung alkil non-polar. Pada proses pencucian, ujung polar ini menghadap ke kotoran (lemak) dan ujung polarnya menghadap ke luar (ke-air). Bagian alkil dari ABS ada yang linier dan non-linier (bercabang). Bagian yang bercabang ABS-nya lebih kuat dan berbusa, tetapi lebih sukar terurai sehingga menyebabkan badan air berbuih. Sulitnya peruraian ini disebabkan karena atom C tersier memblokir beta-oksidasi pada alkil. Hal ini dapat dihindari apabila ABS mempunyai alkil yang linier. Namun ada beberapa bakteri yang dapat menguraikan ABS meskipun memakan waktu yang cukup lama. Bakteri pengurai deterjen antara lain Basilus subtilus, Vibrio coma, Pseudomonas aeruginosa, dan Escherichia coli
2.        Mikroorganisme yang merugikan
Yang paling dikhawatirkan adalah kalau di dalam badan air terdapat jasad-jasad mikro penyebab penyakit, seperti:
a)   Salmonella penyebab penyakit tifus adalah bakteri gram negatif berbentuk batang, tidak membentuk spora namun bersifat patogen, baik pada manusia ataupun hewan. Dapat menyebabkan demam typhoid (typoid fever). Sebenarnya penyakit demam typoid dapat dipindahkan dengan perantara makanan yang terkontaminasi dan dengan kontak langsung dengan si penderita. Namun yang paling umum sebagai fakta penyebab adalah air. Air dapat terkontaminasi oleh bakteri ini karena kesalahan metode pemurnian air atau kontaminasi silang (Cros contaminant) antara pipa air dengan saluran air limbah (Tarigan, 1988).
b)   Clostridium prefringens adalah bakteri gram positif pembentuk spora yang sering ditemukan dalam usus manusia, tetapi kadang-kadang juga ditemukan di luar usus manusia (tanah, debu, lingkungan dan sebagainya).
c)   Escherichia coli adalah bakteri gram negatif berbentuk batang yang tidak membentuk spora dan merupakan flora normal di dalam usus. E.coli termasuk bakteri komensal yang umumnya bukan patogen penyebab penyakit namun bilamana jummlahnya melampaui normal maka dapat pula menyebabkan penyakit. E. coli merupakan salah satu bakteri coliform.
d)  Leptospira merupakan bakteri berbentuk spiral dan lentur yang merupakan penyebab penyakit leptosporosis. Penyakit ini merupakan penyakit zoonosis atau penyakit hewan yang bisa berpindah ke manusia. Pada umumnya penyebaran bakteri ini adalah pada saat banjir.
e)      Shigella dysentriae adalah basil gram negatif, tidak bergerak. Bakteri ini menyebabkan penyakit disentri (mejan). Spesies lain seperti S. sonnei dan S. paradysentriae juga menyebabkan penyakit disentri (Dwijoseputro, 1976).
f)       Vibrio comma adalah bakteri yang berbentuk agak melengkung, gram negatif dan monotrik. Bakteri ini menyebabkan penyakit kolera yang endemis di indonesia dan sewaktu-waktu berjangkit serta memakan banyak korban (Dwijoseputro, 1976).
g)      Ascaris penyebab penyakit cacing, dan banyak contoh-contoh lainnya. Juga didalam air banyak ditemukan mikroba penghasil toksin (racun) yang sangat berbahaya, seperti:
·         Hidup secara  anaerobic seperti Clostridium
·         Hidup secara aerobic seperti Pseudomonas, Salmonella, Staphylococcus, dan sebagainya.
·          Toksin juga dihasilkan oleh beberapa jenis microalgae seperti Anabaena dan Microcystis
h). Kelompok bakteri besi (contoh, Crenothrix dan Sphaerotilus) yang mampu mengoksidasi senyawa besi (II) menjadi besi (III). Akibat kehadiran mikroorganisme tersebut, air sering mengalami perubahan warna kalau disimpan lama yaitu berwarna kehitam-hitaman, kecoklat-coklatan, dan lain-lain.
       i). Kelompok bakteri belerang (contoh, Chromatium dan Thiobacillus) yang mampu mereduksi senyawa sulfat menjadi H2S. Akibatnya kalau air disimpan lama akan tercium bau busuk.
j). Kelompok mikroalga (misalnya yang termasuk kelompok mikroalga hijaubiru, biru, dan kersik, sehingga jika air disimpan lama di dalamnya akan nampak kelompok mikroorganisme yang berwarna hijau, biru atau kekuningkuningan, tergantung dominasi mikroalga yang terdapat dalam air serta lingkungan yang mempengaruhinya. Suatu proses yang sering terjadi di danau atau kolam seluruh permukaan airnya ditumbuhi oleh pertumbuhan massa alga yang sangat banyak (blooming). Blooming menyebabkan perairan berwarna, ada endapan, dan bau amis, disebabkan oleh meningkatnya pertumbuhan mikroalga (Anabaena flos-aquae dan Microcystis aerugynosa). Dalam keadaan blooming sering terjadi :
                 ·      Ikan mati disebabkan jenis-jenis mikroalga yang terdapat di dalam air menghasilkan toksin yang dapat meracuni ikan
              ·      Korosi/pengkaratan terhadap logam karena di dalam massa mikroalga didapatkan pula bakteri besi atau belerang penghasil asam yang korosif
                 ·      Kekurangan oksigen karena mikroalga yang menutupi permukaan kolam sehingga menyebabkan ikan mati.



BAB III
PENUTUP

3.1  kesimpulan
Mikrobiologi air menelaah mengenai mikroba serta kegiatannya di air, baik di danau, sungai, dan laut. Mikrobiologi air menjadi penting karena adanya urbanisasi, sebagai reservoir makanan utama, penelitian lepas pantai untuk mendapatkan minyak dan mineral, didirikannya badan perlindungan keadaan lingkungan. Mikroorganisme fototrofik dianggap sebagai plankton yang paling penting karena merupakan produsen primer bahan organik artinya sebagai pelaku fotosintesis.
            1. Penyebaran Mikroorganisme Dalam Lingkungan Akuatik, meliputi:
- Distribusi pada Mata Air dan Sungai
- Distribusi pada Danau
- Distribusi pada Laut
- Distribusi pada Sedimen Perairan Dalam
- Distribusi pada Sedimen Laut
            2. Faktor Penyebarluasan Mikroorganisme di Lingkungan Akuatik, meliputi:
- Temperatur
- Tekanan Hidrostatik
- Cahaya
- Salinitas
- Turbiditas
- Konsentrasi Ion Hidrogen (pH)
- Nutrien
            3. Peranan Mikroorganisme di lingkungan Aquatik ada yang membawa keuntungan dan juga ada yang membawa kerugiaan.

3.2  Saran
Dengan terselesainya makalah ini diharapkan seluruh elemen baik mahasiswa, maupun masyarakat tetap menjaga kelestarian lingkungan akuatik, sehingga kehidupan microorganisme yang ada di dalamnya tidak terganggu.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

dalam hubungannya dengan aplikasi yang dapat membantu mengelola data yang nantinya sebagai dasar penentuan tindakan terhadap pengelolaan pen...